Ini adalah sebuah bagian kecil dari novel-novel pembangun jiwa yang aku ungkapkan pada sebuah roman picisan yang cengeng pada sudut pandang yang berbeda................
Pada bagian kedua dari tetralogi nyata di tangan sastrawan cerdas bergaya saintifik, “Andrea Hirata”......
Tebal ia mengungkapkan perjuangan hidupnya dari Belitong, sebuah desa terpencil yang jauh dari kata modern.
Namun aku hanya mengungkapkan pada mozaik-mozaiknya yang terlalu indah untukku....
Adalah Arai seorang pemuda yang yatim piatu.
Kecintaan Arai pada Zakiah Nurmala binti Berahim Matarum adalah rasa yang sejadi-jadinya. Tak dapat seorang pun melarangnya, bahkan lebih hebat daripada ambisi Jimbron pada kuda yang tak pernah ia lihat dan tunggangi sebelum Arai mempersembahkan sang Pangeran Mustika Raja Brana milik Capo.
Lucu memang!! seribu, sejuta, bahkan semilyar jurus telah Arai lakukan untuk menaklukan “Sang Bintang” di SMA NEGERI Bukan Main, Zakiah Nurmala.
Namun?? Nurmala diam tanpa kata, dingin, bahkan mungkin menertawakan leloucon-lelucon Arai.
Bukan Ikal namanya jika tak tahu balas budi, dengan kasih sayangnya pada sang yatim piatu tiba-tiba ia mempersembahkan sebuah keinginan untuk membantu Arai dalam penaklukan yang lebih kejam dan curam sekalipun dari gunung Everest.
Lalu Ikal menyarankan agar Arai meminta jampi-jampi pada Bang Zaitun, pimpinan orkes melayu yang tak perlu lagi dinobatkan sebagai pria flamboyan yang kondang dalam dunia persilatan cinta.
Ritual pun berlangsung dengan hebatnya, seperti yang terjadi pada praktek dukun dengan segala bau kembang tujuh rupanya.
Sampailah Arai pada mantra pamungkas dari sang dukun yang mampu menaklukan wanita-wanita dengan dawai-dawai yang dipelintirnya itu.
Sebuah kotak, yang ternyata isinya adalah gitar akustik kebanyakan...
Tercengang tiga sekawan itu, namun itulah jimat pamungkas yang bang Zaitun berikan.
Walaupun tanpa kemampuan musikalitas tinggi seperti Rhoma Irama misalnya, Arai tak mau menyerah, dibanding ia harus rela dimandikan di tujuh buah sumur dengan segala kemusyrikannya.
Dengan lagu yang pernah dibawakan oleh vokalis jazz terbaik sepanjang masa, “WHEN I FALL IN LOVE “ versi Arai tentunya, ia yakin dapat membuat Nurmala bertekuk lutut.
Karena pada bagian-bagian dari lirik lagu itu Arai sudah merasa terwakilkan perasaannya yang membuncah pada “Sang Matahari”
Sayangnya, dengan segala kegelian yang tiada tara Arai gagal dengan pembunuhan karakter terhadapya, untuk mendekati wanita indifferent di dalam rumah Victoria itu.
Lesu, lelah, namun satu..... Arai tak pernah menyerah.
Dan menjelang malam perpisahan sekolah, Arai dengan kecemerlangan bakat seni yang ia miliki secara mendadak, memilih untuk mempersembahkan lip-synch lagu “I CAN’T STOP LOVING YOU”.
Dengan aksesoris yang belum pernah Arai kenakan sebelumnya, tiga sekawan itu kembali beraksi dalam ke-optimisan yang tabu tentunya.
Lagi-lagi kemujuran untuk mendapatkan hati Nurmala belum saatnya terjawab, gagal.... dan gagal dalam kesekian kali penaklukannya.
Ternyata.................
Bagian-bagian mozaik yang aku ungkap terlalu indah untukku, namun lebih indah pada Zakiah Nurmala yang tak pernah menapikan hatinya kelak akan Arai miliki. Entah pada tetralogi keberapa aku bisa menemukannya, namun aku tahu itu akan terjadi, pada sinopsis-sinopsis yang pernah engkau ceritakan dengan semangat, sebelum saat-saat terpuruk menimpaku, mungkin tepatnya menimpa kita.
Kegagalan-kegagalan Arai, adalah kegagalan yang terlalu berat. Namun, ketetapannya pada Nurmala adalah ketetapan yang bukan sekedar janji manis belaka. Karena ia tahu kegagalannya bukan terletak pada vonis Nurmala yang kejam dan mematikan dan tidak tiba-tiba.
Kegagalannya adalah kegagalan waktu yang belum mampu menjawab semuanya.
Tidak sepertiku, mugkin tepatnya seperti kita yang telah dikhianati waktu.
Pernahkah ada yang mengungkap??
Ketika sastrawan kata-kata, sekaliber Andrea Hirata, mampu menampilkan sosok Arai yang gagal terkabul dengan doa-doa yang tak mungkin sarat nilai atheis. Mewakilkan pada doa-doa panjang oleh “WHEN I FALL IN LOVE” nya Nat King Cole, bahkan pada duel antara gaya Barry Manilow, dengan tarikan suara indah Ray Charles , saat melakukan lip-synch, ”I CAN’T STOP LOVING YOU” hanya untuk menaklukan Zakiah Nurmala????.
Jika Andrea Hirata dengan segala kecerdasannya mampu menyuguhkan skenario memilukan penantian Arai-Zakiah Nurmala, yang pada episode-episode selanjutnya ia akan memberikan ketakjuban yang indah di balik doa-doa Arai yang gagal atau setidaknya belum pantas dinikmati pada tetralogi “Sang Pemimpi”. dan tak satupun kita sebagai penikmat sastra tak menduga-duga Zakiah Nurmala dapat Arai miliki, walaupun melewati deretan panjang doa-doa yang gagal dan tersirat. Tapi Arai tak pernah sekalipun putus asa pada doanya yang tersirat dalam kegagalan. karena ia:
“kita tak’kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai.
Dan aku setuju.
Apalagi Allah Azza Wajalla Sang Pemilik Hati segenap hamba-Nya, Sang Pemilik Kecerdasan yang dimiliki Andrea Hirata, akan lebih mampu menampilkan skenario-skenarionya yang memilukan bahkan lebih dahsyat yang Andrea tampilkan. Lewat doa-doa hambanya yang gagal kita terjemahkan, atau bahkan pada penundaan doa-doa yang tersirat. Yang secara terburu-buru hambanya putuskan. Yang akhirnya terlahirlah ungkapan “Terkesan Mendahului Nasib.”
Sebagai hamba yang hina, aku tidak menapikan pada pembolak-balikkan hati hamba-oleh kekuasaan-NYA, jika itu memang harus terjadi.
Dari rasa Kasih, Allah balikkan menjadi rasa benci, dan kenapa kita harus tidak menapikan dari rasa benci Allah kembalikan lagi menjadi rasa kasih??...
Kenapa harus seperti eksekusi mati?, tak ada lagi tawar-menawar walaupun sedikit??
Entah di mana letak kesalahan dan kebodohanku dalam menerjemahkan ini semua.
Jika kita percaya adanya hidup setelah mati, kenapa dirimu tidak percaya akan kekuasaan_NYA untuk menghidupkan lagi hati yang mati dengan segenap kepercayaan yang sesungguh-sungguhnya???.
Wallahu’alam......
Allah Maha Pengatur semuanya....
Mungkin ini hanya ketidakmampuanku menerjemahkan ini semua, ketidakmampuan pada kartu mati darimu.
Jumat, 29 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
